Sekilas tentang Gerakan Literasi Sekolah

Apa itu Literasi ?

Kemampuan dalam mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas.

Apa itu Gerakan Literasi Sekolah?

Sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Seperti apakah sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang literat ?

Sekolah yang menyenangkan dan ramah anak di mana semua warganya menunjukkan empati, kepedulian, semangat ingin tahu dan cinta pengetahuan, cakap berkomunikasi dan dapat berkontribusi kepada lingkungan sosialnya.

Apa yang dimaksud dengan Pelibatan publik ?

Peran serta warga sekolah (guru, kepala sekolah, peserta didik, orang tua, tenaga pendidikan, pengawas sekolah, dan Komite Sekolah) akademisi, dunia usaha dan industri dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber : Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah Ditjen Dikdasmen Kemendikbud

Gerakan Literasi Sekolah Menumbuhkan Budaya Literasi di Sekolah

Praktik pendidikan perlu menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran agar semua warganya tumbuh sebagai pembelajar sepanjang hayat. Untuk mendukungnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Terobosan penting ini hendaknya melibatkan semua pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga satuan pendidikan. Pelibatan orang tua peserta  didik dan masyarakat juga menjadi komponen penting dalam GLS.

Sumber : Buku Saku Gerakan Literasi Sekolah Ditjen Dikdasmen Kemendikbud

Lain negara lain pula sistem pendidikannya. Setiap negara tentu menerapkan sistem yang sekiranya dinilai paling sesuai untuk karakteristik penduduknya. Tapi, memang ada yang terbaik, yaitu Finlandia, menurut survei yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) di tahun 2000 yang telah membandingkan pelajar dalam rentang usia sekitar 15 tahun dari berbagai negara. Dalam survei tersebut, Finlandia meraih tempat teratas. Begitu pun saat dilakukan survei oleh lembaga lain, Finlandia tetap menduduki peringkat teratas sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik.

Namun ternyata tak hanya Finlandia yang mempunyai sistem yang baik dan berhasil memberikan hasil pendidikan maksimal bagi warganya yang patut ditiru.

Jepang

Murid-murid di Jepang mempunyai kebiasaan Souji, atau bersih-bersih dalam waktu sekitar 15 menit di setiap hari di mana murid-murid akan menghentikan semua aktivitas dan mulai membersihkan kelas. Mereka akan mengepel lantai kelas bersama guru dan bahkan kepala sekolahnya. Sekolah-sekolah di Jepang tidak mempunyai petugas kebersihan, dan karenanya tugas ini dilakukan oleh murid-murid bersama guru.

Secara periodik, diadakan cek kesehatan gratis di sekolah bagi para murid, dari mulai pemeriksaan gigi oleh dokter gigi hingga tes urine untuk memeriksa apakah ada yang menderita diabetes, begitu pun pendengaran, penglihatan, kesehatan mulut, jantung, dan paru-paru.

Tiongkok

Sebelum Republik Rakyat Tiongkok diproklamasikan pada tahun 1949, 80% penduduknya adalah buta huruf. Kemudian selama pemerintahan Mao Zedong, pendidikan merupakan prioritas utama pemerintah sehingga berhasil membuat sebuah revolusi budaya. Menurut hasil data UNICEF, buta huruf ini mampu ditanggulangi hingga mencapai 99% hanya dalam waktu tujuh tahun.

Brasil

Masalah pendidikan utama yang harus dihadapi oleh pemerintah Brasil adalah rendahnya kesadaran orangtua akan arti pentingnya pendidikan formal bagi anak-anak mereka. Banyak keluarga miskin yang memilih tidak menyekolahkan anaknya, dan lebih senang menyuruh mereka untuk membantu orangtua mencari nafkah. Namun, situasi membaik kemudian berkat program Bolsa Escola, di mana orangtua yang membiarkan anak-anak mereka sekolah menerima tunjangan dari pemerintah, dan juga adanya program FUNDEF yang memungkinkan orangtua menerima dana pemerintah sesuai dengan jumlah anak yang disekolahkan.

India

Tingkat buta huruf penduduk perempuan India lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Namun India telah mencapai kemajuan besar dalam meningkatkan jumlah murid untuk pendidikan dasar, dan mampu memberantas buta huruf hingga hampir 2/3 dari total penduduknya.

Namun, India masih harus menghadapi tantangan berat di depan mata, karena hanya 15% dari total pelajar di sana yang dapat melanjutkan dari pendidikan dasar ke menengah.

Mari kita berharap, supaya Indonesia bisa segera berbenah diri terutama di bidang pendidikan, agar mampu mencapai kualitas hidup yang lebih baik. [RedCarra]

Teknologi, utamanya internet, telah memungkinkan pendidikan tinggi dapat diakses oleh jutaan orang yang mempunyai permasalahan tersendiri hingga tak dapat menempuh pendidikan secara jalur reguler. Banyak perguruan tinggi kini menawarkan kelas untuk diisi oleh mahasiswa secara online, yang dikenal dengan Universitas Terbuka.

Namun apakah semua program studi dalam universitas tersebut dijamin berkualitas? Beberapa universitas memang menawarkan program studi yang bagus, namun tak kurang pula yang hanya mahal tapi kurang berkualitas.

Oleh karena itu, Anda harus jeli dan mengerti benar bagaimana memilih universitas terbuka yang bagus dan sesuai untuk Anda.

  1. Langkah awal adalah mencari universitas terbuka yang menawarkan spesialisasi yang sesuai dengan minat Anda. Buatlah shortlist beberapa universitas terbuka sebagai alternatif.
  2. Dari shortlist tersebut, kemudian pilihlah lagi berdasar akreditasi universitas. Cari tahu akreditasi per program studinya. Akan lebih baik jika Anda memilih universitas yang dikelola oleh negara, ketimbang universitas yang dikelola swasta.
  3. Pastikan mereka mempunyai pilihan kelas online. Beberapa universitas terbuka menawarkan program studi online yang lengkap sementara yang lain selain kelas online, juga mewajibkan mahasiswa untuk hadir secara langsung dalam beberapa mata kuliah.
  4. Langkah berikutnya adalah mencari tahu kebijakan masing-masing universitas terbuka, biaya kuliah, dan juga proses pendaftaran. Bandingkan biaya dan kebijakan pendidikan antara satu universitas dengan universitas yang lain. Pastikan bahwa proses pendaftarannya mudah dan punya kebijakan pembayaran biaya kuliah yang bisa meringankan Anda.
  5. Carilah informasi mengenai persyaratan teknis kuliah di universitas tersebut. Biasanya Anda akan memerlukan laptop atau desktop dengan akses internet, printer dan software khusus untuk melakukan video chatting atau konferensi. Perlengkapan tersebut penting untuk Anda miliki agar kelas online dapat berlangsung dengan lancar tanpa gangguan.
  6. Berikutnya, Anda bisa mencari informasi dosen atau profesor universitas yang dipilih. Kalau perlu, Anda langsung dapat meminta nomor telepon atau emailnya. Suatu saat nanti Anda akan perlu melakukan bimbingan pribadi dari dosen Anda.
  7. Setiap universitas terbuka memiliki bahan studi dan prosedur ujian menurut kebijakannya masing-masing. Jadi pastikan Anda mendapatkan informasi bahan studi ini di awal semester, kalau perlu sekaligus dengan jadwal ujiannya.
  8. Yang terakhir, galilah informasi lebih dalam mengenai universitas yang sudah Anda pilih tersebut. Cari tahu tak hanya reputasi baiknya, namun juga reputasi yang tak begitu baik. Jika Anda punya teman yang pernah menempuh pendidikan di universitas tersebut, tentu akan lebih memudahkan Anda mencari informasi mendalam mengenainya.

Nah, selamat menempuh jenjang lanjut pendidikan Anda secara online ya. [RedCarra]

Tangerang, Kemendikbud --- Penelitian yang dilakukan guru besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sekaligus pakar di bidang pendidikan kejuruan, Soenarto, menunjukkan bahwa SMK dengan program pendidikan empat tahun ternyata lebih disukai dunia usaha dan industri. Program pendidikan kejuruan empat tahun memberikan waktu lebih banyak bagi siswa mengikuti kerja praktik di perusahaan, minimal selama enam hingga sembilan bulan. Ini memberikan keuntungan bagi perusahaan karena sejumlah pekerjaan terbantu dengan kehadiran tenaga magang.

Hal tersebut disampaikannya dalam seminar nasional dalam rangka Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK 2015 yang diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) Tangerang, Banten, Rabu (10/6). Penelitian itu dilakukan dalam kurun waktu Agustus hingga Desember 2014 pada sekolah kejuruan program empat  dan tiga tahun di Indonesia.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pendidikan yang dilakukan SMK empat tahun bagus. Tapi bukan berarti SMK tiga tahun tidak bagus. Pihak industri mengakui bahwa lulusan SMK empat tahun memiliki kompetensi dan soft skill yang lebih baik untuk bekerja,” ungkap Soenarto.

Ia menambahkan, kalangan industri merasakan manfaat dari tenaga siswa SMK yang melakukan kerja praktik minimal empat bulan. Sementara SMK dengan program pendidikan tiga tahun, hanya melakukan praktik industri selama dua hingga tiga bulan.

Soenarto menambahkan, biasanya siswa  yang melaksanakan praktik industri selama enam bulan atau lebih akan langsung direkrut untuk lanjut bekerja di perusahaan tersebut setelah lulus. “Indikator SMK  berhasil adalah jika para lulusannya bekerja dengan masa tunggu enam bulan. Itu berarti jika siswa belum lulus kemudian direkrut sebuah perusahaan, bisa dikatakan masa tunggunya nol bulan,” tuturnya.

Penelitian ini, tambah Soenarto, didiseminasi di SMK Negeri 57 Jakarta dan hasilnya banyak sekolah kejuruan yang ingin dikembangkan menjadi program empat tahun. Direktur sebuah perusahaan besar di Indonesia bahkan menyarankan, jika sekolah ingin berkembang, maka program pendidikan SMK empat tahun merupakan pilihan yang tepat.  

“Saya kira ini positif. Pihak industri juga pernah menyampaikan, sebaiknya siswa SMK empat tahun dibekali pengetahuan manajerial, agar dia bisa melaksanakan fungsi supervisor di industri. Ini berarti kalangan industri mengakui bahwa lulusan SMK empat tahun sudah bisa mengatur lulusan SMK dengan program pendidikan tiga tahun,” katanya. (Ratih Anbarini)

Sumber : kemdiknas.go.id