Suatu ketika, saat hujan deras tiba, sepasang suami istri berteduh sambil bergandengan tangan. Mereka rupanya baru pulang kerja. Di tengah penantian hujan reda, lewatlah sebuah motor di hadapan mereka. Motor tersebut dikendarai oleh sepasang suami istri. Berkatalah sang istri kepada suaminya, “Lihatlah pak, betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu. Meskipun mereka kehujanan, teteapi mereka bisa lebih cepat sampai ke rumah. Tidak seperti kita yang harus capek berdiri menunggu hujan reda.”

Sementara itu, di saat yang bersamaan, di depan suami istri yang sedang berboncengan tersebut, melitas sebuah mobil. Kemudian berkatalah sang istri yang dibonceng tersebut, “Lihatlah pak, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu, tidak perlu kehujanan seperti kita di jalan.”

Di dalam mobil tersebut, ada sepasang suami istri yang kaya raya dan sedang pulang kerja pula. Ketika melihat sepasang suami istri yang tengah berteduh sambil bergandengan tangan, sang suami yang kaya raya berkata dalam hati, “Betapa bahagianya suami istri tersebut. Mereka dengan mesranya bergandengan tanga, sementara aku dan istriku tidak pernah punya waktu bersama karena kesibukan masing-masing. Tidak pernah bergandengan tangan seperti mereka.” Sang suami hanya bisa terdiam memandang istrinya yang duduk di sebelahnya, namun tengah asyik ber-BBM-an ria bersama teman-temannya.

Dari cerita di atas, kita mengetahui satu hal, yaitu: kebahagiaan tidak akan pernah kita miliki jika kita hanya melihat kebahagiaan milik orang lain. Kita tidak akan pernah bahagia jika terus membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Sekarang coba renungkan, seberapa sering kita merasa bahwa orang lain jauh lebih bahagia dari kita? Kita hanya fokus pada pikiran bahwa kita tidak memiliki ini dan itu. Kita tidak pernah berpikir berapa banyak yang sudah kita miliki. Padahal, tahukah kita, jika apa yang kita miliki belum tentu juga dimiliki oleh orang lain. Mereka bisa jadi iri terhadap kita karena mereka tidak meiliki apa yang kita punya.


Kita semua tentu sering mendengar ungkapan “rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri”.Ya, begitulah sifat manusia. Selalu merasa kurang. Rumput tetangga selalu terlihat lebih indah, padahal rumput kita sebenarnya jauh lebih unik dan menarik. Hal ini tergantung dari bagaimana kita bahagia dengan rumput yang kita miliki saat ini. Semuanya tergantung dari seberapa tinggi rasa syukur kita terhadap rumput yang kita miliki. Sekalipun mungkin rumput kita kering dan terlihat meranggas, tetapi jika kita terus bersyukur maka kita akan merasa bahwa rumput kita lebih menarik. Lho, kok bisa? Bukankah rumput yang kering itu warnanya cokelat? Jika begitu rumput kita akan terlihat unik di tengah ribuan rumput lain yang berwarna hijau. Bukankah unik dan berbeda itu lebih menarik daripada sama dan seragam?

Percayalah, kecemburuan hanya akan menghancurkan kebahagiaan kita. Oleh karena itu, jangan pernah menjadikan orang lain sebagai patokan dalam mengukur kebahagiaan kita. Ingat, kebahagiaan masing-masing individu berbeda satu sama lain. Setiap orang mempunyai standar kebahagiaan sendiri, dan setiap orang punya kemampuan berbedapula dalam memnuhi standar kebahagiaannya. Syukuri dan nikmati apa yang ada, maksimalkan apa yang kita punya. Wallahu a’lam. izmir

 

 


Dikutip dari Buku 19 KEYS: HAPPY HEALTHY WEALTHY

 

Sumber gambar : riahidayah.blogspot.com