Setelah berhasil menyelesaikan studi, kita akan dihadapkan oleh satu fase kehidupan baru: bekerja. Ya, bekerja. Sebagian dari kita mungkin telah mengangankan masa-masa bekerja ini sejak lama. Memikul tanggung jawab untuk diri sendiri atau orang terdekat, mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan yang kita miliki, dan menikmati uang yang kita hasilkan dari keringat sendiri.

Namun sayangnya, mencari pekerjaan—terlebih pekerjaan yang kita cita-citakan—terkadang bukanlah hal yang mudah. Selalu saja ada hal-hal yang kerap membuat kita tak begitu saja mendapatkan pekerjaan idaman kita itu.

Soal pengalaman bekerja, misalnya. Jika kita melihat iklan-iklan lowongan pekerjaan di media massa, kita sering melihat bahwa perusahaan pemasang iklan tersebut hanya mencari mereka yang telah berpengalaman. Kita tentu berada di luar kategori tersebut.

Tapi jangan kecil hati. Peluang selalu, dan akan selalu, tetap ada.

Dunia kerja, bagaimana pun, adalah dunia yang berbeda dengan dunia pendidikan. Di dunia kerja kita dituntut untuk dapat memikul tanggung jawab sesuai dengan posisi kita dan bersikap profesional. Segala keahlian dan keterampilan kita dihargai lewat sejumlah nominal (gaji) dan penghargaan (apresiasi). Untuk itu, jelas yang pertama-tama harus disiapkan untuk dapat meraih pekerjaan idaman adalah mental yang cakap.

Hal ini kerap terlupa oleh para pencari kerja. Padahal perkara mental adalah perkara penting. Di berbagai artikel mengenai sumber daya manusia, yang ditulis oleh Human Resources and Development (HRD) perusahaan-perusahaan terkemuka, kerap disebutkan bahwa selain keahlian dan keterampilan, urusan mental adalah faktor utama yang menjadi latar belakang sebuah perusahaan menerima seorang pekerja atau tidak.

Mental seorang pencari kerja dapat terlihat dari hal-hal yang tampak sederhana. Dalam dokumen-dokumen lamaran kerja, contohnya. Sebelum seorang pegawai HRD menelaah isi dokumen yang kita lampirkan, mereka akan melihat bagaimana kita membuat dokumen lamaran kerja serta kelengkapannya.

Surat lamaran terbilang penting. Jika, sebut saja, bahasa yang kita gunakan dalam surat lamaran tersebut tidak baik, tidak rapi, dan tidak mencerminkan mental yang matang, maka jangan harap lamaran kita akan diproses lebih jauh.

Mental kita juga akan terlihat lebih jauh saat kita menjalani proses wawancara atau interview. Nah, di sini ada baiknya kita harus telah benar-benar siap menjalani proses wawancara.

Salah satu batu sandungan yang kerap mengganjal para pelamar kerja adalah psikotes. Psikotes ini boleh dibilang gampang-gampang susah. Kuncinya, sekali lagi, adalah mempersiapkan diri dengan baik.

Untuk itu, sebelum melangkah lebih jauh dalam pencarian pekerjaan idaman, ada baiknya kita mempersiapkan mental terlebih dahulu. Jangan ragu untuk membaca berbagai artikel mengenai pekerjaan yang kita inginkan, tambah pengetahuan kita. Jangan lupa pula, pelajari seluk-beluk dunia pekerjaan, mulai dari pembuatan dokumen lamaran pekerjaan yang baik, bagaimana menghadapi psikotes pekerjaan, jenis-jenis status pekerja, dan profil perusahaan yang hendak kita lamar.

 [IHU]