Selang 5 hari sejak kepulangan saya dari Kota Banjarmasin, jadwal Relaunching dan Bedah Buku ADH berikutnya sudah menunggu. Betapa senangnya hati saya ketika menginjakkan kaki di Bandara Internasional Sepinggan Balikpapan. Waktu itu tanggal 5 Oktober 2012 jam 11.45 wita. Ya, saya akan menghadiri Relaunching dan Bedah Buku saya di Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di kota Balikpapan dan Samarinda.

Di Bandara saya disambut Pak Rahmad Zakaria, ASM Marcomm & NB Erlangga Samarinda. Karena sudah kenal sejak di Banjarmasin, tanpa basa basi kami langsung tancap gas cari masjid. Soalnya hari itu Jum’at. Mau Jum’atan dulu. Menara-menara masjid sudah mengumandangkan azan. Namun karena waktunya sangat mepet, ditambah jalanan macet, ketika sampai di masjid, sholat Jum’at sudah selesai. Yah, mau tak mau kami hanya bisa melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah. Usai sholat, kami mampir ke Kantor Perwakilan Erlangga Balikpapan. Maksud hati ingin berleha-leha, ternyata listrik mati. Sudahlah, kita putuskan berangkat ke Gramedia lebih awal.

Di Gramedia Balikpapan Plaza, saya sempat kaget, lebih tepatnya senang, karena tak jauh dari pintu masuk dan di tempat yang eye catching, tumpukan novel ADH tertata rapi dan mengundang pengunjung untuk merubung. Tentu hal ini tak terlepas dari terjalinnya hubungan baik Pak Aris Suro Prasetyo, Assistant Manager Erlangga Balikpapan dan Pak Zakaria dengan pihak Gramedia.

Sambil menunggu acara dimulai, saya sempat berbincang dengan Pak Joseph Silaban, Store Manager Gramedia. Menurut Beliau, sebagai novel yang baru terbit, ADH cukup menarik minat pembeli. Bisa bersaing dengan buku-buku true story para tokoh sukses yang sekarang menjamur.

Dihadapan sekitar 50 pengunjung toko buku Gramedia, tepat pukul 15.00 Wita acara dimulai. Dengan dipandu oleh Mas Noval, seorang penyiar dari Onix Radio 88.7 FM Balikpapan, yang mengaku sudah menyelesaikan membaca ADH dalam waktu singkat, mengatakan novel ini sangat penting dimiliki setiap orang, lebih-lebih kaum muslim, karena tak hanya sekedar cerita romantisme biasa, (sebagaimana judulnya yang mengundang sejuta tanya) yang setelah selesai dibaca lalu hilang begitu saja, akan tetapi banyak mengandung pelajaran hidup, etika dan moral, heroisme dan bisa pula menjadi guiden bagi yang akan menunaikan ibadah haji.

Di tengah acara tanya jawab, ada seorang pengunjung pria, namanya Pak Rasyid, merasa sangat terkesan saat mengikuti acara ini karena menurutnya berisi motivasi berhaji. Dia sangat ingin naik haji, akan tetapi secara finansial belum siap. Apakah impian saya akan tercapai? Tanyanya. Saya yakinkan, bahwa haji bukan semata-mata persoalan harta, karena banyak orang kaya, tapi tak tergerak hatinya untuk berhaji. Pak Rasyid tersenyum senang dan nampak semakin bersemangat.

Insyaallah, dengan niat tulus, kerja keras dan cerdas dalam mencari nafkah, dan yang tak kalah penting, yakin akan ke-Maha Kayaan Allah SWT, niat suci Bapak akan jadi kenyataan, jawab saya. Selanjutnya, tanya jawab para peserta lain pun semakin berkembang meliputi bagaimana kiat-kiat bisa mewujudkan mimpi naik haji menjadi kenyataan. Menjelang akhir acara, saya mengajak audiens ber-talbiyah. Alhamdulillah direspon spontan oleh para pengunjung. Ya, Allah kabulkan doa orang-orang yang memohon kepada-Mu. Amiin.

Di akhir acara, ADH diserbu pengunjung. Hampir 25 buku terjual.  Karena besok pagi harus tampil di Universitas Mulawarman Samarinda, malam itu juga saya dan Pak Jack berangkat naik mobil dari Balikpapan melintasi jalan berkelok dan hutan belantara perbukitan Soeharto menuju Kota Samarinda. Paginya, Koran Tribun Kaltim terbitan 5 Oktober 2012 menulis liputan di Gramedia Balikpapan dengan judul: ‘ASMARA DI ATAS HARAM RILIS DI DUA KOTA’, yang menginformasikan bahwa Relaunching dan Bedah Buku ADH tidak hanya di Balikpapan, akan tetapi juga di Samarinda.

ADH dibedah penulis novel dan dosen sastra
Acara di Universitas Mulawaran di buka oleh Pak Syahril Bardin, Dekan FKIP. Dalam sambutannya, Beliau mengatakan, acara Relaunching dan Bedah buku semacam ADH yang digagas Erlangga bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni ini sangat edukatif dan selayaknya diagendakan sebagai sebuah kegiatan akedemik yang terprogram di masa depan. Gayung bersambut. Dalam sambutan balasan, Pak Jack juga  merespon positif himbauan Pak Dekan. Bahkan dalam waktu dekat akan ada lagi bedah buku psikologi terapan yang bukunya juga diterbitkan oleh Erlangga, ucap Pak Jack.

Dari sisi perencanaan, Pak Jack beserta jajaran Erlangga Samarinda sudah maksimal menyiapkan acara yang berlangsung di auditorium itu. Para undangan yang berkisar 100 orang itu nampaknya para aktivis kampus semua. Nampak stand bazaar buku Erlangga, kemudian ada liputan media lokal, dalam hal ini harian Tribun Kaltim, RRI, dan TVRI Kaltim. Juga menghadirkan para pembahas yang berkualitas, yakni penulis Samarinda Bu Inni Indarpuri yang novelnya kini menyeruak ke pasar. Kehadiran novel ADH yang berskala nasional dimana penulisnya berasal dari Kalimantan menambah riuh jagat novel tanah air. Hal ini patut disyukuri dan diharapkan bisa memacu semangat penulis muda, khususnya dari kalangan mahasiswa jurusan Bahasa dan Seni Universitas Mulawarman, ungkap Bu Inni, yang di akhir acara berkenan menghadiahkan sebuah novel karyanya kepada saya. Sungguh saya sangat senang dan berterima kasih sekali.

ADH adalah sebuah karya sastra yang unik. Mengangkat ritual ibadah haji yang merupakan acara rutin setiap tahun bagi ummat muslim se dunia, menjadi sebuah cerita yang menarik. Tidak hanya sisi manasiknya yang diungkap sesuai tuntunan berhaji, akan tetapi bisa dinikmati sisi lainnya, seperti romantisme, heroisme dan teladan tokoh utama yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kejujuran, demikian dikupas oleh Pak Syamsul Arifin,  sastrawan yang juga seorang akademisi di Universitas Mulawarman.

Sesi interaktif penulis dan peserta yang dimoderatori oleh Bu Irni Fatma Satyawati, dosen psikologi dan penulis yang sedang hamil, lebih banyak diisi pertanyaan berkisar tips dan trik menulis novel bagi pemula. Dengan suara lembut dan tak nampak lelah sedikit pun, Bu Irni mengatur lalu lintas pertanyaan yang kadang kocak. Kocaknya karena ada pertanyaan, kok bisa seorang yang latar belakang pendidikannya bukan dari jurusan sastra (penulis seorang sarjana hukum) mampu menghasilkan karya sastra, sementara yang dari sastra belum kelihatan karyanya. Pertanyaan yang bikin gerr itu membuat segar suasana. Kupasan pembicara yang cukup detil dan apa adanya, membuat peserta betah. Kalau saja tidak dibatasi waktu, diskusi akan terus berlanjut. Alhamdulillah, di akhir acara novel ADH cukup banyak dibeli para peserta yang terkesan.

Tak kalah seru, sore harinya, kembali di gelar acara Relaunching dan Bedah Buku ADH di Gramedia Mal Lembuswana Samarinda. Pembicara, Bunda Farah Flamboyant, yang di kota Samarinda dikenal sebagai konsultan dan terapis anak-anak berkebutuhan khusus. Beliau  membandingkan cerita yang ada di dalam novel Asmara Di Atas Haram dengan apa yang dialaminya sendiri. Ceritanya, ketika Farah remaja diberi pilihan oleh orang tuanya, naik haji sekalian menikah di Tanah Suci Mekkah, ataukah biaya berhaji dibelikan rumah, maka Farah dan calon suaminya waktu itu, justru memilih naik haji ketimbang beli rumah. Yang menurutnya sebuah keputusan yang tepat. Adalah sebuah pengalaman yang sangat indah dan tak akan pernah terlupakan bagi pasangan remaja itu adalah ketika menjalani detik-detik saat prosesi ijab qobul berlangsung di depan Ka’bah.

Jadi buat Bunda Farah, cerita di dalam Asmara Di Atas Haram adalah gue banget!, katanya. Dengan pembawaan yang ceria dan selalu diselingi senyum, Bunda Farah mengajak para pengunjung yang memadati Gramedia untuk membeli novel bertema haji itu. Tak hanya bisa mendapatkan cerita cinta yang sangat romantis, katanya, akan tetapi juga bisa menjadi buku pelajaran manasik haji.

Bu Irni, yang sebelumnya menjadi moderator di UNMUL, kembali diminta untuk bertindak selaku moderator. Dengan kepiawaiannya memancing rasa ingin tahu pengunjung, tak sedikit mereka yang awalnya hanya berhenti sejenak, sekedar ingin tahu, lama-lama malah bergabung dan menjadi partisipan aktif. Semakin lama, pengunjung semakin antusias. Sebelum azan sholat Maghrib berkumandang, acara berakhir. Alhamdulillah, rasa ingin tahu pengunjung kemudian disalurkan dengan membeli novel Asmara Di Atas Haram. Tentunya, dengan bonus mendapatkan tanda tangan dan foto bareng penulis. Informasi dari seorang staf Gramedia yang saya ajak bicara, sebelum acara berlangsung, novel Asmara Di Atas Haram sudah terjual sebanyak 96 eksemplar. Tak heran, karena di media luar ruang Mal, nampak baliho raksasa Asmara Di Atas Haram terpampang megah. Salut!

Keesokan harinya, saya harus meninggalkan kota Samarinda menuju Balikpapan untuk kembali ke Jakarta. Dalam mobil yang disetiri oleh Mas Fahmi, Staf Erlangga Samarinda, kami melintas di atas Sungai Mahakam yang membelah kota Samarinda. Tongkang-tongkang pengangkut batubara melayari sungai yang terkenal dengan ikan pesutnya itu. Dikejauhan, nampak seperti gunung-gunung hitam yang sedang bergerak. Asmara Di Atas Haram Melintasi Sungai Mahakam. (ZLM)